Pesta Blogger PHOTO CONTEST 2010

Posting: 02-September-2010 00:00

Dengan tema “ Merayakan Keragaman “, kami berharap bahwa ada catatan atau rekam gambar yang menunjukan rasa kebangsaan dan keberpihakan terhadap semangat satu bangsa, satu negara dan satu tanah air. Ini bukan jargon klise, karena dengan situasi aksi kekerasan dan terror yang terus menciderai kebinekaan negeri ini akan justru membuat kita berpikir lebih jernih lagi – melalui medium foto – tentang sebuah Indonesia yang plural dan sekaligus satu.

Jadi, kami menunggu foto-foto yang yang akan menjadi catatan sejarah blogger Indonesia. Kenapa tidak? Selamat bergabung.


Memasuki tahun ketiga penyelenggaraannya, Photo Contest hadir untuk menyemarakkan Pesta Blogger 2010. Kali ini dengan tema yang sejalan dengan Pesta Blogger 2010 yaitu “Merayakan Keragaman” diharapkan akan ada foto-foto terbaik karya anak bangsa yang akan menjadi gambaran semangat nasionalisme, kebhinekaan dan gotong royong.

Arbain Rambey, Kristupa Saragih dan Jerry Aurum siap menilai foto yang dikirimkan para kontestan lomba ini. Jadi tunggu apalagi, segera kirimkan foto terbaik anda untuk mendapatkan hadiah menarik dari panitia.

Bagaimana cara mengikuti lomba ini? gampang saja. Klik REGISTER pada sidebar web ini, kemudian isi formulir pendaftaran, dan pastikan username dan password yang anda selalu ingat. Panitia akan mengirimkan salinan verifikasi registrasi anda. Dengan fasilitas member ini anda bisa submit foto dan artikel (yang berhubungan dengan fotografi). Kami menunggu anda sampai dengan 15 Oktober 2010.

Detail tentang persyaratan yang harus dipenuhi oleh para kontestan dapat dilihat di halaman GUIDELINE.

Salam Fotografi!

Lihat Site Asli

Iklan

Ilmu Kehidupan

Posted: Oktober 8, 2010 in Uncategorized

Alkisah, ada seorang pemuda yang hidup sebatang kara. Pendidikan rendah, hidup dari bekerja sebagai buruh tani milik tuan tanah yang kaya raya. Walapun hidupnya sederhana tetapi sesungguhnya dia bisa melewati kesehariannya dengan baik.

Pada suatu ketika, si pemuda merasa jenuh dengan kehidupannya. Dia tidak mengerti, untuk apa sebenarnya hidup di dunia ini. Setiap hari bekerja di ladang orang demi sesuap nasi. Hanya sekadar melewati hari untuk menunggu kapan akan mati. Pemuda itu merasa hampa, putus asa, dan tidak memiliki arti.

“Daripada tidak tahu hidup untuk apa dan hanya menunggu mati, lebih baik aku mengakhiri saja kehidupan ini,” katanya dalam hati. Disiapkannya seutas tali dan dia berniat menggantung diri di sebatang pohon.

Pohon yang dituju, saat melihat gelagat seperti itu, tiba-tiba menyela lembut. “Anak muda yang tampan dan baik hati, tolong jangan menggantung diri di dahanku yang telah berumur ini. Sayang, bila dia patah. Padahal setiap pagi ada banyak burung yang hinggap di situ, bernyanyi riang untuk menghibur siapapun yang berada di sekitar sini.”

Dengan bersungut-sungut, si pemuda pergi melanjutkan memilih pohon yang lain, tidak jauh dari situ. Saat bersiap-siap, kembali terdengar suara lirih si pohon, “Hai anak muda. Kamu lihat di atas sini, ada sarang tawon yang sedang dikerjakan oleh begitu banyak lebah dengan tekun dan rajin. Jika kamu mau bunuh diri, silakan pindah ke tempat lain. Kasihanilah lebah dan manusia yang telah bekerja keras tetapi tidak dapat menikmati hasilnya.”

Sekali lagi, tanpa menjawab sepatah kata pun, si pemuda berjalan mencari pohon yang lain. Kata yang didengarpun tidak jauh berbeda, “Anak muda, karena rindangnya daunku, banyak dimanfaatkan oleh manusia dan hewan untuk sekadar beristirahat atau berteduh di bawah dedaunanku. Tolong jangan mati di sini.”

Setelah pohon yang ketiga kalinya, si pemuda termenung dan berpikir, “Bahkan sebatang pohonpun begitu menghargai kehidupan ini. Mereka menyayangi dirinya sendiri agar tidak patah, tidak terusik, dan tetap rindang untuk bisa melindungi alam dan bermanfaat bagi makhluk lain”.

Segera timbul kesadaran baru. “Aku manusia; masih muda, kuat, dan sehat. Tidak pantas aku melenyapkan kehidupanku sendiri. Mulai sekarang, aku harus punya cita-cita dan akan bekerja dengan baik untuk bisa pula bermanfaat bagi makhluk lain”.

Si pemuda pun pulang ke rumahnya dengan penuh semangat dan perasaan lega.

Teman-teman yang luar biasa,

Kalau kita mengisi kehidupan ini dengan menggerutu, mengeluh, dan pesimis, tentu kita menjalani hidup ini (dengan) terasa terbeban dan saat tidak mampu lagi menahan akan memungkinkan kita mengambil jalan pintas yaitu bunuh diri.

Sebaliknya, kalau kita mampu menyadari sebenarnya kehidupan ini begitu indah dan menggairahkan, tentu kita akan menghargai kehidupan ini. Kita akan mengisi kehidupan kita, setiap hari penuh dengan optimisme, penuh harapan dan cita-cita yang diperjuangkan, serta mampu bergaul dengan manusia-manusia lainnya.

Maka, jangan melayani perasaan negatif. Usir segera. Biasakan memelihara pikiran positif, sikap positif, dan tindakan positif. Dengan demikian kita akan menjalani kehidupan ini penuh dengan syukur, semangat, dan sukses luar biasa!

Salam sukses luar biasa!!!
-Andrie Wongso

Ketika Aku Sekolah Dulu

Posted: Oktober 8, 2010 in Uncategorized

Kecil Dulu

Dari jaman sekolah doeloe rasanya senang sekali apabila Bapak atau Ibu guru kita mengumumkan bahwa ada kegiatan rapat dewan guru sehingga para siswa diminta belajar di rumah masing-masing. Teriakan hore secara koor bergema di ruang kelas tanpa komando. Budaya itu diyakini masih ada dan berlaku sampai sekarang pada level atau jenjang pendidikan manapun dan di mana pun.

Bahkan saya sendiri menjelang akhir pekan rasanya kok plong bangets ya? Apa karena akan terbebas dari rutinitas tugas? Hehehe… Sebuah seloroh pernah saya ungkapkan kepada para mahasiswa bahwa sesekali mahasiswa membuat pengumuman yang berbunyi demikian “Sehubungan para siswa/mahasiswa mau rapat, para guru/dosen dipersilakan mengajar di rumahnya masing-masing. Wkwkwkwk…”. Barangkali saja ada guru/dosen yang senang mendengarnya karena terbebas dari belenggu rutinitas. Ups! Yang satu ini tolong jangan diekspos ya, entar dikira Anda dianggap tidak taat aturan dalam soal penghormatan pada guru/dosen.

Saya pernah mengumumkan suatu hari bahwa perkuliahan dipercepat dari jadwal yang seharusnya karena ada tugas/dinas ke luar kampus. Tak pelak teriakan hore secara koor yang sama bergema dari mulut para mahasiswa. Saya akhirnya memutuskan menunda keluar ruang kelas. Saya mengurungkan niat mengakhiri pecepatan perkuliahan dengan mengatakan bahwa selama ini berarti dalam mengikuti pembelajaran dijalani dengan terpaksa atau penuh tekanan. Mereka mengelak dengan tuduhan tersebut. Namun saya beranalogi bahwa seandainya menjalani perkuliahan dengan gembira atau fun mengapa teriakan yang terucap bukan kalimat yang sebaliknya. Yakni sebuah kalimat yang menggambarkan rasa kecewa karena dtinggal dosennya dalam proses belajar di kelas.

Yang jelas guru atau dosen yang baik adalah mereka yang kehadirannya dinantikan oleh para siswa atau mahasiswanya. Ia akan dirindukan bila tidak masuk/hadir di sekolah atau kampus. Apabila yang terjadi sebaliknya, berarti ada yang salah dengan proses belajar-mengajar yang selama ini terjadi.

Seorang pendidik mestinya mempunyai kepribadian yang menarik, supel dalam menjalani aktifitas pembelajaran. Ia juga menggunakan paradigma pendidikan demokratis dalam menekuni peran profesional seorang pendidik –untuk hal ini selanjutnya baca “Paradigma Pendidikan Demokratis karya Prof. Dr. Dede Rosyada, MA–. Ia juga harus menjadi orang yang pertama yang mengamalkan dan mengimplementasikan hal-hal yang diajarkan kepada para muridnya.

Pernah pada suatu siang seorang mahasiswa mengirimkan sebuah pesan pendek bahwa ia sedang bete mengikuti perkuliahan yang diasuh oleh seorang dosen. Katanya: “Panas euy, bete, jenuh, mendengarkan ceramah si dosen, sudah tua lagi”. Selang beberapa detik kemudian saya menjawabnya:”Bukankah kita juga akan menjadi tua? Berarti kita akan membetekan juga dong…”. Ya, mestinya seorang guru/dosen harus dapat mendesain pembelajarannya secara komprehensif dengan perencanaan yang matang. Kombinasi berbagai metode dan strategi pembelajaran dapat dilakukan agar prosesnya belajar di ruang kelas dapat berjalan secara menyenangkan dan sukses mencapai tujuan yang ditentukan dan diharapkan.

Metode ceramah memang murah meriah, dan bersifat massif. Tetapi ceramah yang monoton juga dapat membuat kejenuhan yang dirasakan oleh para peserta didik. Di samping mempunyai kelebihan, metode ceramah juga mempunyai sedikit-banyak kekurangan. Kekurangan inilah yang mestinya dapat didukung dengan penggunaan kombinasi metode semacam diskusi, tanya-jawab, demonstrasi, karya wisata, resitasi, dll. Sudirman N, et. all. dalam buku Ilmu Pendidikan menjelaskan secara gamblang berbagai kelebihan dan kelemahan metode-metode mengajar. Hal ini juga dapat diperkuat dengan penggunaan strategi, pendekatan, dan teknik pembelajaran yang berpusat pada aktifitas siswa. Buku 101 Strategi Active Learning karya Melvin L. Sibermen dapat memberikan inspirasi para pendidik untuk mengarahkan pembelajarannya menjadi lebih menarik.

Sebagai seorang guru, dosen, atau sebutan lain yang aktifitasnya sejalan, sudah seharusnya mengembangkan paradigma baru dalam proses pembelajaran. Guru bukanlah satu-satunya sumber belajar. Artinya bagaimana dapat mendesain agar peserta didik tetap dapat belajar kendatipun kita absen dalam proses pembelajaran dengan berbagai alasan yang tentunya dapat dipertanggungjawabkan. Wallahu a’lam.Tanenji

Saat ini sedang mewabah 11 penyakit yang rentan di derita oleh guru, hal ini banyak sekali faktor yang mempengaruhi diantaranya :

1. Kondisi bangsa

2. Masalah ekonomi

3. Mulai terbatasnya ruang gerak guru

4. Tuntutan kurikulum yang begitu banyak

5. dll

Sehingga muncul 11 penyakit – penyakit berikut :

1. TIPUS : Tidak Punya Selera

2. MUAL : Mutu Amat Lemah

3. KUDIS : Kurang Disiplin

4. ASMA : Asal Masuk

5. KUSTA : Kurang Strategis

6. TBC : Tidak Bisa Computer

7. KRAM : Kurang Terampil

8. ASAM URAT : Asal Sampaikan Materi Urutan Kurang Akurat

9. LESU : Lemah Sumber

10.DIARE : Di Kelas Anak-anak Diremehkan

11. GINJAL : Gajinya Nihil Kurang Aktif dan Lambat

Untuk itu, … mari kita waspadai di sekitar kita !

Agar kita terhindar dari 11 penyakit tersebut … OKE ???

Belajar Bersyukur

Posted: Oktober 8, 2010 in Uncategorized

Pelajaran bersyukur adalah pelajaran pertama yang saya anggap penting dalam setumpuk mata pelajaran di sekolah kehidupan Indonesia. Dalam “mata pelajaran” yang satu ini, guru saya yang pertama dan terutama adalah almarhumah ibu saya sendiri. Ia mengajarkan kepada saya agar mendisiplin diri untuk belajar bersyukur dalam segala situasi, baik di kala suka maupun di kala duka.

Bersyukur di kala suka, yakni saat hidup berjalan sebagaimana saya harapkan, tidaklah sulit. Saya dengan mudah mengucapkan syukur atas segala macam hadiah yang saya peroleh, prestasi yang saya raih, penghargaan yang saya terima, dan berbagai rejeki serta kemudahan dalam kehidupan sehari-hari. Dan setiap kali saya mengingat-ingat kemurahan Tuhan, saya dengan mudah dapat mengucapkan syukur dalam hidup saya.

Namun, bersyukur di kala duka acap kali tidak mudah saya lakukan. Bagaimana saya harus bersyukur ketika hidup berjalan tidak seperti yang saya inginkan? Ketika saya kecewa karena tidak mendapatkan apa yang saya harapkan, atau ketika beban kehidupan terasa berat karena harus menunaikan sejumlah kewajiban dalam keluarga atau dalam pekerjaan, maka mengucap syukur menjadi soal yang tidak mudah. Apalagi ketika saya berulang kali harus menerima kenyataan sejumlah usaha yang saya rintis untuk meningkatkan tarap hidup, justru berakhir dengan kegagalan dan kebangkrutan. Bukan hanya tidak memberikan hasil seperti yang saya harapkan, saya terkadang harus menanggung beban hutang yang harus dicicil selama beberapa tahun. Hal-hal semacam itu membuat saya kecewa, frustasi, sedih, dan hampir putus asa. Biasanya pada saat-saat semacam itu, gelombang kekhawatiran mengenai masa depan muncul silih berganti. Masa depan nampak sebagai sesuatu yang menyeramkan, dan semangat hidup turun pada tingkat terendah.

Saya kemudian menyimpulkan bahwa bersyukur di kala suka itu mudah, tetapi bersyukur di kala duka memerlukan latihan dan disiplin. Bersyukur atas berkat yang Tuhan limpahkan itu gampang, tetapi bersyukur atas penderitaan yang Tuhan ijinkan menimpa hidup saya, jelas tidak mudah. Dan karena yang terakhir ini tidak mudah, saya perlu mempelajarinya dengan lebih seksama.

”Sekurang-kurangnya ada dua pilihan yang bisa kamu ambil ketika hidupmu sedang dilanda kesusahan. Pertama, kamu bisa mengeluh atau bahkan mengutuk hidup sendiri; Kedua, kamu bisa tetap bersyukur karena kamu yakin bahwa tidak ada kesusahan yang di ijinkanTuhan melampaui kekuatan yang telah diberikannya kepada kamu. Bahkan acapkali kesusahan yang di ijinkan Tuhan itu sesungguhnya merupakan sebuah proses persiapan untuk kamu menikmati suka cita yang lebih besar dari yang pernah kamu alami sebelumnya,” kata Ibu saya. Dan dalam praktik hidup yang nyata, Ibu saya selalu memilih yang kedua. Sepanjang hidupnya saya tidak pernah mendengar Ibu saya berkeluh kesah. Ia selalu bersyukur. Selalu. Ini membuat saya kagum dan menghormati ajarannya.

Bagi Ibu saya, bersyukur adalah soal pilihan pikiran dan hati. Kita bebas menentukan pilihan, namun kita terikat pada dampak yang ditimbulkan oleh setiap pilihan. Entah sadar atau tidak, bagi Ibu saya jelas bahwa mengeluh dan mengutuki kegagalan dan kesusahan hidup tidak pernah membuat hidup menjadi lebih baik. Keluhan bahkan membuat kita makin kehilangan semangat hidup dan terperosok lebih dalam kejurang keputusasaan. Sebaliknya, dengan tetap mengucap syukur kita kemudian ditolong untuk menemukan kembali kegairahan hidup, mendapatkan semacam kekuatan untuk menghadapi kenyataan sepahit apapun. Bersyukur membuat mata pikiran [eye of mind] dan mata batin [eye of spirit] kita terbuka lebih lebar, sehingga dapat melihat berbagai kemurahan tuhan yang nyata-nyata telah [bukan] akan Ia berikan dalam hidup kita. Atas kemurahan Tuhanlah kita masih hidup, masih bisa bernafas, masih bisa makan dan minum, masih memiliki pakaian, tempat tinggal, di beri kesehatan, dan sebagainya. Dengan perkataan lain, bersyukur menolong kita untuk tetap menjaga perspektif hidup secara keseluruhan, tidak terjebak hanya melihat sisi gelap kehidupan kita saat menderita.

Bagaimana caranya agar kita tetap mampu bersyukur dalam segala situasi, terutama ketika situasi kita tidak menyenangkan? Bagi Ibu saya caranya amatlah sederhana. Ia mempraktikkan syair lagu berikut:

Bila hidupmu dilanda topan b’rat
Engkau putus asa hatimu penat
Berkatmu kau hitung satu persatu
K’lak kau tercengang melihat jumlahnya

Itulah caranya. Dan itulah yang saya coba praktikkan selama berpuluh tahun. Bila kesusahan hidup mendera, saya mengambil selembar kertas dan memaksa pikiran saya untuk menemukan sejumlah hal yang pantas saya syukuri dalam hidup. Saya mendaftarkan sejumlah prestasi dan penghargaan yang pernah saya raih; menambahkan sejumlah hal yang berhasil saya miliki; menuliskan semua tempat rekreasi dan kota-kota yang pernah saya kunjungi; mencatat satu per satu anggota tubuh saya yang sehat; buku-buku yang sempat saya baca; nama-nama orang yang pernah menolong saya atau yang pernah saya tolong; bahkan juga kesusahan-kesusahan yang pernah saya lalui; dan seterusnya. Dan sejauh ini harus saya akui, saya akhirnya sering tercengang melihat jumlahnya. Biasanya saya berhenti ketika daftar syukur saya mencapai angka seratus. Bila saya lanjutkan, maka jumlahnya pasti bisa ditambah sepuluh atau dua puluh kali lipat, atau bahkan lebih. Lalu saya merenung dan bertanya pada diri saya sendiri: tidak cukup banyakkah berkat Tuhan yang telah nyata-nyata saya terima dan saya alami dalam hidup saya? Lalu adilkah saya bila karena sebuah penderitaan saja, semua berkat Tuhan itu saya anggap tidak bernilai? Bukankah pada kenyataannya saya telah menerima begitu banyak berkat yang melampaui apa yang sesungguhnya saya butuhkan untuk hidup?

Lambat laun, setelah latihan bersyukur dalam segala situasi selama puluhan tahun, saya kemudian menyadari ada perbedaan antara orang yang bisa bersyukur dengan orang yang mahir bersyukur. Sama seperti orang yang bisa berenang harus dibedakan dengan mereka yang mahir berenang, orang yang bisa naik sepeda harus dibedakan dengan pembalap sepeda, dan seterusnya. Bisa belum tentu mahir, tetapi mahir pasti bisa.

Orang yang bisa bersyukur adalah mereka yang bersyukur ketika hidupnya berjalan sesuai keinginannya, tetapi mengeluh ketika kesusahan datang. Sementara orang yang mahir bersyukur tetap bisa mengucap syukur bahkan ketika hidup berjalan tidak seperti yang diharapkan. Kesadaran ini membuat saya menetapkan dalam hati saya akan menempa diri agar menjadi orang yang mahir bersyukur, bukan sekadar bisa bersyukur. Bahkan lebih dari itu, saya berharap bisa ”mewariskan” kecakapan mengucap syukur dalam segala situasi ini kepada anak-anak saya dan kepada setiap orang yang bisa saya sentuh hidupnya dengan berbagai cara, termasuk dengan cara menuliskan artikel sederhana ini.

Tentang kemahiran bersyukur ini saya pernah melakukan sebuah eksperimentasi selama sepuluh bulan dengan melibatkan 500 peserta program pelatihan dari 20-an angkatan/kelas yang saya fasilitasi. Dalam salah satu materi pelatihan, saya meminta semua peserta berlomba mebuat daftar ”25 hal yang saya syukuri dalam hidup”. Hasilnya menunjukkan bahwa untuk setiap angkatan hanya 1-2 orang saja yang mampu menyelesaikan daftar syukur tersebut dalam waktu 4 menit atau kurang [rekor tercepat adalah 2,5 menit]. Lebih dari 95% peserta memerlukan waktu yang lebih lama. Karena itu secara hipotetis saya menganggap bahwa jumlah yang banyak itu termasuk kategori orang bisa bersyukur, sementara jumlah yang 5 persen itu bisa dikelompokkan sebagai orang yang mahir bersyukur.

Belajar mengucap syukur dalam segala situasi, itulah salah satu pelajaran penting yang saya pelajari di sekolah kehidupan Indonesia. Dan saya sungguh bersyukur bahwa untuk pelajaran yang sepenting itu, Tuhan memberi saya seorang guru terbaik yang pernah saya kenal: Ibu saya sendiri.Tabik!
*) Andrias Harefa

Pengumuman IMC 2010

Posted: Oktober 8, 2010 in Uncategorized

Nah, ini mungkin yang paling dicari – cari oleh peserta maupun orang tua bahkan sekolah yang ikutan lomba Australian Mathematic Competition 2010

The 2010 AMC

First posted Friday 03 September 2010, last update Monday 27 September 2010.

The 2010 AMC, the 33rd AMC, was held on Thursday 05 August. Medal results are announced below.

The Australian medals will be presented by Her Excellency Professor Marie Bashir AC CVO, Governor of New South Wales, at Government House Sydney, on Friday 12 November 2010.

New Zealand medals will be presented in Christchurch on Monday 08 November 2010.

Singapore medals will be presented at the Novotel Hotel, Clarke Quay, on Thursday 28 October 2010.

Philippine medals will be presented in Manila on Friday 22 October 2010.

Indonesian medals will be presented in Jakarta on Monday 25 October 2010.

Malaysian medals will be presented in Kuala Lumpur on Sunday 31 October 2010.

Some Taiwan medals will be presented in Taipei around Thursday 24 February 2011.

Hong Kong medals will be presented at a function at the Polytechnic University on Monday 28 February 2011.

AMC Medallists from the Junior, Intermediate & Senior Divisions
NAME SCHOOL
YR
Junior
ANG Nathaniel Ryan Xavier School PHI 8
ARYAN Alok Rani Public School IND 8
CHAN Nigel Chung Hong* St Paul’s Co-Educational College HKG 8
CHERRYH Michael Gold Creek School ACT 7
CHIA Benjamin All Saints’ College WA 8
CHO Ming En* Hwa Chong Institution SIN 8
GUNNING Alexander Glen Waverley Secondary College VIC 7
HASKELL Hayley St Peter’s School Cambridge NZ 8
JANSEN Jarret Sta Maria Raffles Institution SIN 8
JIN Charley James Ruse Agricultural High School NSW 7
KHONG Yi Kye SMJK Sin Min MAL 8
LAU Chun Ting* St Paul’s Co-Educational College HKG 7
LIN Ting Chun Taichung Municipal Hui-Wen High School TAI 7
NG Seanne Daphne St Jude Catholic School PHI 8
PANTEV Tsvetelin Childrens Academy 21st Century BUL 7
PHAM Sampson Corinda State High School QLD 8
QIAN Yi-Hui* Suzhou Lida School CHN 8
SHI Kevin James Ruse Agricultural High School NSW 8
SOESANTO Christa Lorenzia* Surya Institute: Santa Laurensia IDN 8
SUN Matthew Penleigh and Essendon Grammar School VIC 8
UY Mikaela Angelina St Jude Catholic School PHI 8
WOLSEY Aimee The Correspondence School NZ 8
YOUNG Peter Tirtowijoyo Mathematics Education Clinic IDN 8
ZHANG Karen Pymble Ladies’ College NSW 7
ZHANG Yumeng Immanuel College SA 8
Intermediate
AGISILAOU Adrian Balwyn High School VIC 10
BISWAS Amartya Shankha Dav Model School IIT Kharagpur IND 9
CHAPAROV Yordan Maths School – Atanas Radev – Yambol BUL 10
CLYMO-ROWLANDS Rowan The Friends’ School TAS 10
DIEP Tam Keilor Downs Secondary College VIC 10
HO Hsing Yieh Taipei Municipal Dunhua Junior High School TAI 9
HOW Si Wei SMK USJ 12 MAL 9
KE Yuxuan Raffles Institution SIN 10
KIM Se Yeun Chatswood High School NSW 10
KOR Chong Luck Ryan* Raffles Institution SIN 10
LAO Carmela Antoinette St Jude Catholic School PHI 10
LOO Andy St Paul’s Co-Educational College HKG 10
MA Lok Man King Ling College HKG 10
NEERANARTVONG Weerachai Patumwan Demonstration School THA 10
PITIMANAAREE Nipun Patumwan Demonstration School THA 10
REID James Radford College ACT 10
TRINH Steven Melbourne High School VIC 10
WULANDARI Putri Fajar Mathematics Education Clinic IDN 10
XU Yanning St Peter’s College SA 10
YOU Yu Hao Taipei Chenggong High School TAI 9
ZHOU Yichen Catholic High School (Secondary) SIN 10
Senior
CHEN Brian International Bilingual School at the Hsinchu-Science-Park TAI 11
CHONG Aaron Doncaster Secondary College VIC 12
CHONG Zhen Hui Kluang Chong Hwa High School MAL 12
DE SILVA Raveen James Ruse Agricultural High School NSW 12
GRANVILLE Malcolm Auckland Grammar School NZ 12
HUANG Emily Kay Ming-Dao High School, Taichung County TAI 11
KHOO Thomas St Peter’s College SA 12
KHU Boon Tat Daren Hwa Chong Institution SIN 12
LAW Stacey James Ruse Agricultural High School NSW 12
LEI Yitao All Saints Anglican Senior School QLD 12
LI Tiansheng Hwa Chong Institution SIN 12
MAKELOV Aleksandar Math School – Nikola Obreshkov – Bourgas BUL 12
MEI Ming-Yi Jeffrey Westlake Boys High School NZ 12
PARK Kiho Mt Waverley Secondary College VIC 12
RYBA Christopher The Hutchins School TAS 12
RYOO Sang Woo Chungbuk Science High School KOR 11
WONG Cynthia Somerville House QLD 11
WONG Sampson James Ruse Agricultural High School NSW 12
YU Angel Perth Modern School WA 11

* denotes perfect score: Peter O’Halloran certificate

Primary School Perfect Scores: Peter O’Halloran Certificates
NAME SCHOOL
YR
Middle Primary
CHOU I Kuan Tainan Municipal Cheng-gong Elementary School TAI 4
COOPER Linus Homebush West Public School NSW 4
Upper Primary
CHOU Yi Municipal Minsheng Junior High School TAI 6
GAN Li Meng SJK (C) KUO Kuang MAL 6
WIXTED Barton Warwick Christian College QLD 7
YU HOI WAI Harry La Salle Primary School HKG 5


Selengkapnya bisa dilihat di http://www.amt.edu.au/

selamat kepada para peraih medali … !!!

Enjang Bayu Irawan

Posted: Agustus 3, 2010 in Uncategorized